Agar pendidikan di Indonesia maju, Akreditasi antara Politeknik dengan Universitas harus dibedakan.

Agar pendidikan di Indonesia maju, Akreditasi antara Politeknik dengan Universitas harus dibedakan.

1024
0
SHARE

Hal tersebut dikemukakan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Jerman Prof Agus Rubiyanto, disela-sela kunjungannnya beberapa waktu yang lalu di POLIMARIN (politeknik Maritim Negeri Indonesia). Menurutnya ada hal yang perlu dicontoh Indonesia dari negara-negara maju seperti di Jerman, salah satunya adalah sistem pendidikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah prosentase pelajaran perbandingannya adalah 60% untuk prektek dan 40% untuk teori. Menurut Agus, Jerman merupakan negara maju dengan jumlah sekolah vokasional yang lebih banyak dari pada sekolah umum. 2/3 siswa di Jerman lebih memilih untuk menuntut ilmu di sekolah Vokasional. Agus menambahkan, hubungan antara Indonesia dan Jerman ada beberapa sektor, antara lain pendidikan, investasi, ekonomi, perdagangan, sains, kesehatan, pertahanan, ketahanan pangan dan transportasi. Untuk kerjasama bidang pendidikan, ada beberapa universitas di Indonesia yang telah melakukan lompatan luar biasa dengan bekerjasama dengan Jerman salah satunya adalah Polimarin. Selain itu ada ITS, UGM, UNJ, Universitas Negeri Malang, ITB, serta Universitas Sultan Agung Tirtayasa.  Sedangkan kerjasama antara Wismar University Jerman dengan Polimarin ini sudah mencapai 3 point, yaitu kerjasama di bidang logistik, edukasi, sains serta teknologi.

“kualitas pendidikan tidak bisa di copy paste, sejak dini anak harus dididik long learning education, tidak serta merta pendidikan diperoleh dengan instan, apa lagi dengan metode gonta ganti kurikulum” tutur Agus.

Selain itu hal lain yang perlu dijadikan perhatian pada sistem pendidikan di Indonesia ini adalah akreditasi antara politeknik dengan universitas harus dibedakan karena sedari awal prinsip 2 jalur pendidikan tersebut sudah berbeda, yaitu politeknik mengarah kepada skill profesional, sedangkan universitas mengarah pada keilmuan.

“Apalagi seperti Polimarin ini yang menelorkan calon-calon pelaut handal, skill profesi sebagai pelaut harus benar-benar dikuasai dengan cara memperoleh pendidikan yang lebih banyak praktek ketimbang teori, tutur Agus”

Lompatan-lompatan tersebut tentunya tidak akan ada artinya apabila tidak diimbangi dengan penguasaan bahasa, beberapa negara di Eropa tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, maka dari itu perlunya mempelajari selain bahasa Inggris.

Hal lain yang perlu dikuasai agar pendidikan di Indonesia menjadi maju adalah meningkatkan rasa percaya diri. Menurut Agus, pola pendidikan tidak lepas dari kultur, di Indonesia umumnya memiliki rasa malu, rasa malu tersebut tidak masalah namun harus percaya diri. Karena di Jerman anak-anak hanya diberikan kebebasan untuk berbicara mulai sejak TK, tidak untuk belajar membaca dan berhitung.

“Taman Kanak-Kanak di Jerman tidak diperbolehkan membaca, hanya di Indonesia saja yang melihat jika ada anak TK bisa membaca disebut hebat ….tutur Agus” (Dengan nada tertawa)

Menurut Agus, yang paling hebat lagi adalah, meningkatnya jumlah mahasiswa Jerman yang belajar ke Indonesia, tahun lalu ada 700 sedangkan untuk tahun 2014 ini menjadi 1500 mahasiswa.

Direktur Polimarin, Dra, Sri Tutie Rahayu, M.Sc menambahkan, guna meningkatkan kualitas para pengajar pihaknya juga mengirimkan beberapa dosen untuk mendapatkan pendidikan lanjutan ke luar negeri seperti di Swedia, Jerman dan juga kerjasama double degree di kalangan mahasiswa dengan ITS. (jojo mahsunah)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY