Sri Tutie Rahayu, Perempuan Tangguh Di Balik Polimarin Semarang

Sri Tutie Rahayu, Perempuan Tangguh Di Balik Polimarin Semarang

2342
0
SHARE

“Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang. Pelaut ulung pasti lahir dari laut yang bergelombang dengan turbulensi tinggi.”

Bila bicara dari aspek gender, dalam jajaran dunia pendidikan kemaritiman Indonesia memang langka perempuan. Namun sejak 2012, bangsa ini patut berbangga dengan tampilnya figur Sri Tutie Rahayu sebagai pendiri sekaligus Direktur Politeknik Maritim Indonesia Semarang. Di ruang kerjanya, ketika belum lama ini tim Subbagian Layanan Informasi Ditjen SDID berkesempatan bincang hangat dengan Sri Tutie Rahayu, aura dan spirit ketangguhan begitu terpancar. Beliau memang bukan perempuan biasa.

Didikan Penuh Disiplin

Benang merah kecintaan pada lingkup kemaritiman rupanya bersinggungan erat dengan latar keluarga dan lingkungan masa kecilnya. Masa kanak-kanak dan remaja Sri Tutie Rahayu kental dengan gaya didik disiplin sang ayahanda yang berprofesi di Angkatan Darat, sementara kediaman berdekatan dengan sekolah kemaritiman yang kala itu bernama Pendidikan Pelayaran Perwira, di jalan Singosari, Semarang. Tambahan kemudian, salah satu kakak kandungnya menikahi seorang pelaut yang membuatnya banyak tahu cerita pelaut bergaji besar serta menganalisis outcome dunia kelautan bagi devisa negara.

Perjuangan Luar Biasa

Perjalanan menuju Polimarin Semarang diawali karir ibu dari dua buah hati ini sebagai dosen di Kopertis, dengan penempatan di Akademi Pelayaran Niaga (Akpelni). Di sana kiprah kariernya bergerak naik hingga diangkat menjadi PD III. Yang menarik, setelah beliau pindah tugas belum ada lagi PD III bergenre perempuan. Saat itu timbul keprihatinan pada hatinya, melihat kenyataan bahwa banyak anak didik di perguruan tinggi swasta sulit mengikuti ujian akhir pendidikan. Dari situ terpikirlah betapa ideal jika terdapat sekolah maritim negeri bermartabat dengan komitmen terhadap pendidikan yang mampu memfasilitasi hambatan tersebut.

Dari sinilah cikal bakal Polimarin bergulir, diawali dari diperbantukannya Sri Tutie Rahayu pada 1992 di sebuah lembaga swasta bertitel SGC (Semarang Growth Center) yang berdiri di bawah pengelolaan Kopertis dan Aptisi. Kala itu SGC berperan mewadahi kebutuhan perguruan tinggi swasta akan alat-alat laboratorium. Dalam perkembangannya, perguruan tinggi swasta mulai mandiri dalam hal kepemilikan sarana laboratorium, hingga peran SGC pun surut. Akhirnya, diusulkanlah pengadaan fasilitas pembelajaran kelas dunia berupa simulator kemaritiman melalui kerjasama pinjaman G to G dengan Jerman, termasuk pula kemampuan untuk menarik dan mendidik instruktur berkualitas global. Ternyata permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Berkenaan dengan peliknya pengaturan anggaran yang tidak sedikit, Sri Tutie Rahayu berinisiatif menjadikannya penegerian dan diberi nama Balai Pengembangan Layanan dan Pendidikan Tinggi (BPLP), sekaligus dirinya terpilih sebagai Kepala balai.

Peran besar Sri Tutie Rahayu dalam merealisasikan Polimarin tak diragukan. Lika-liku perjuangan ia hadapi dengan tekad kuat, semangat pantang menyerah, dan meningkahi tantangan dengan bekerja keras. Kecerdasannya dalam menganalisis masa depan dunia maritim yang prospektif pada akhirnya sampai di satu titik di mana ia ingin membuat sebuah perguruan tinggi maritim. Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan 2/3 luas wilayahnya adalah laut, tetapi mengapa kita tidak punya perguruan tinggi kemaritiman? Begitu pertanyaan besar yang mengganggu benaknya. Lantas dijawablah tantangan Dirjen Pendidikan Tinggi Ditjen Dikti Kemendikbud, Djoko Santoso, pada era itu, dengan mengajukan dokumen-dokumen lengkap persyaratan demi berdirinya sebuah politeknik kemaritiman dalam waktu singkat, 3 bulan saja. Singkat kata, tercatatlah 2012 sebagai tahun berdiri Politeknik Maritim Negeri Indonesia dengan Sri Tutie Rahayu sebagai Direktur Polimarin.

Kita tak Cukup Berlari. Kita harus Terbang

Berdirinya Polimarin Semarang penuh dengan perjalanan yang luar biasa. Kendati masih berusia balita, Polimarin tak kalah melesat menelurkan terobosan-terobosan dalam upaya meningkatkan kompetensi serta kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk memenuhi persyaratan degree minimal yang disyaratkan oleh pemerintah bagi perguruan tinggi.

Segera setelah pelantikan sebagai Direktur Polimarin, ia bersama tim bekerja siang malam menguatkan barisan, sampai-sampai melakoni meeting hingga jam 3.00 dini hari. “Saya katakan siap dan berkomitmen. Dan meminta teman-teman bahwa kita tidak cukup hanya berlari, kita harus terbang!” Sesudah Satker terbentuk, barulah kegiatan studi banding ke luar negeri untuk menimba banyak ilmu terealisasikan karena di Indonesia sendiri pendidikan maritim melebihi D4 masih belum terwujud. Eropa, khususnya Jerman dan Swedia, yang menjadi kiblat kemaritiman terbaik di dunia karena aspek kejujuran, kualitas SDM dan kecanggihan teknologi, menjadi target Sri Tutie Rahayu untuk melakukan kerja sama akademik berupa double degree D4 dan S1 terapan. Dengan rencana program double degree dosen berpeluang mendapat gelar S1, dan jika setelahnya dosen bersangkutan ingin melanjutkan S2 di Jerman, akan dipersilakan. Ke depan, Profesor dari Jerman akan beragenda mengajar di Polimarin di semester pertama, dan di semester berikutnya secara bergantian tenaga pendidik Polimarin akan dikirim ke Jerman untuk menimba ilmu dan pengalaman menjadi asisten dosen.

Kerja keras kerap berbuah manis. Sri Tutie Rahayu sukses membuka terobosan bekerja sama dengan Jerman dan WMU (World Maritime University) di Swedia yang merupakan universitas maritim dunia bentukan IMO (International Maritime Organization). Hal lain, Sri Tutie Rahayu juga berencana berkolaborasi dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) untuk mengeluarkan sertifikasi bertaraf internasional atas izin BNSP dan OPITO London (sertifikasi khusus untuk off shore). Lulusan perwira pelayaran niaga yang memiliki kemampuan mengawaki kapal-kapal niaga tentu akan sangat diperlukan di dunia maritim Indonesia. Apalagi Presiden RI telah mencanangkan Indonesia sebagai poros maritim, menegakkan kedaulatan Indonesia di bidang kemaritiman sebagai bangsa maritim besar, seperti tercantum dalam Nawa Cita.

Harapan Besar pada Polimarin

Tak terbayangkan bahwa apa yang telah dicapai Polimarin sejauh ini berakar dari uletnya seorang perempuan, dan kebanyakan orang mungkin akan bertanya-tanya latar kemampuan pendidikan sosok Sri Tutie Rahayu. “Dulu kalau ditanya latar pendidikan, saya bilang saya kuliah di sospol jurusan maritim,” kelakarnya, seraya menyebut Administrasi Niaga sebagai latar prodinya. Terlepas dari itu, adalah hak setiap warga negara untuk memilih bidang yang mereka kuasai dan cintai untuk mengabdi kepada negara. Dengan daya upaya dan pikiran yang all out, passion Sri Tutie Rahayu terbukti tercurah pada bidang kemaritiman. Tahun 2012 menjadi saksi awal pengabdiannya kendati di sisi kehidupan pribadi dikenangnya sebagai tahun duka yang dalam atas wafatnya suami tercinta.

“Saya sudah mulai memikirkan regenerasi dan mempersiapkan pengganti saya sejak sekarang karena saya kan tidak selalu sehat. Saya selalu meminta petunjuk-Nya di setiap langkah yang saya kerjakan. Setiap hari saya berusaha membaca 30 juz surat Alqur’an karena saya punya keyakinan, ketika Alqur’an dikhatamkan, 70.000 malaikat akan menyaksikan dan mereka pun akan ikut mendoakan serta mengamini. Saya ingin doa yang terbaik agar Allah mengatur yang terbaik bagi Polimarin, juga negeri ini.”

sumber : Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

NO COMMENTS

Comments are closed.