SHARE

Program yang dicanangkan oleh presiden RI Jokowi, poros maritim akan terrealisir apabila negara mendorong agar para stake holder menyerap para lulusan dari pendidikan maritim. Hal ini dikemukakan oleh direktur lembaga studi kajian kebijakan maritim, Untung Budiarso disela-sela talkshow Blue Ocean RRI On Air bersama direktur Polimarin Sri Tutie Rahayu, Sabtu 23/7/16.

Menurut Untung, “right man on the right place” itu sangat penting dalam hal ini adalah sektor kemaritiman.

“Jangan sampai lulusan tatalaksana tidak bekerja di sektor itu malah ke sektor lain yg tidak ada hubungannya” Tutur Untung.

Prinsip “right man on the right place” tersebut berdampak terhadap kemajuan ekonomi di Indonesia.

“Serap semua lulusan maritim, buat apa menyiapkan lembaga yg memadahi kalau outputnya tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah”, imbuhnya.

Menurut Untung di beberapa pelabuhan justru diisi tenaga yang bukan expert bukan lulusan dari pendidikan maritim.

“Misal yg menjadi administrator pelabuhan masih ada S-1 yg bukan expert, hal ini menjadi persoalan, jika ingin memiliki tenaga yang berkompeten berkaitan dg maritim maka harus menempatkan orang sesuai dengan bidangnya. Jangan sampai lulusan tatalaksana tidak bekerja di pelabuhan namun bekerja di tempat yang lain” tutur Untung.

Terkait output pendidikan maritim di Indonesia, menurut Untung hal tersebut tergantung pada lembaga pendidikan itu sendiri seperti SDM dosen, networking yang baik serta sarana dan prasarana yang memadahi.

Menurut Untung, saat ini terdapat 24 pelabuhan di 18 kota-kota di negeri ini, 75% nya terdapat di Indonesia barat. Hal ini merupakan terobosan yang bagus, untuk itu pemerintah harus mempersiapakan lembaga pendidikan maritim yang kompeten guna menyiapkan SDM untuk mengisi peluang-peluang itu.

Mengenai lulusan pendidikan maritim yang kompeten, Sri Tutie Rahayu selaku direktur Polimarin menyatakan, sebelum mentransfer pendidikan dan ketrampilan kepada anak didik, institusi harus meningkatkan kualitas SDM dosen. Tahun ini Polimarin membuka D-IV beberapa program studi. Hal tersebut mendapatkan dukungan dan kerjasama dengan Wismar University Jerman.

Kerjasama double degree tersebut menurut Tutie, bukan melulu mengkultuskan label internasional, melainkan SDM yang dinilai kurang, perlu mendapatkan upgrade ilmu yang nantinya diperuntukkan bagi anak bangsa.

Hal tersebut berimbas bagi para dosen agar terpacu meningkatkan kualitasnya. “Pertukaran dosen dari wismar ke Polimarin dan sebaliknya merupakan pengakuan yang tidak mudah. Karena keberadaan Polimarin disejajarkan oleh mereka” tutur Tutie.

Polimarin merupakan lembaga yang mensertifikasi pelaut, menurut Tutie, Polimarin bertanggung jawab kepada dua kementarian, secara akademis bertanggung jawab kepada Kemristekdikti, sedangkan untuk kompetensi bertanggung jawab kepada Kemhub khususnya perhubungan laut selaku administrator dari IMO (International Maritime Organization).

Tutie menyatakan terkait perkembangan infrastruktur, menurut instruksi presiden, Polimarin telah diberikan mandat untuk mengelola lahan seluas 100 Ha, yang perencanaan pembangunannya akan direalisasikan secepatnya dengan estimasi tahun 2017.

Menurut direktur lembaga studi kajian kebijakan maritim, Untung Budiarso, di Indonesia saat ini memiliki 30 PTN (Perguruan Tinggi Negeri) maritim dan 300 PTS (Perguruan Tinggi Swasta), diantaranya 25% memiliki sarana prasarana yang tidak memadahi.

Menurut Untung, lembaga pendidikan memiliki peran strategis, namun demikian pemerintah harus memiliki daya dukung, daya dukung yang perlu dimiliki sebagai sekolah kemaritiman berstandar diantaranya adalah kurikulum, Sarana-prasarana dan yang perlu mendapatkan perhatian adalah SDM para pendidik.

“Persoalan serius yang dihadapai program studi Nautika dan Teknika ini adalah ketika pelaut profesional harus mendarat menjadi dosen dengan gaji yang sangat timpang, hal ini tentunya menjadi kendala”, tutur Untung.

“Nah ini merupakan persoalan bagi pemerintah dalam rangka menyeimbangkan kebutuhan SDM tersebut. Menurut Untung, pemerintah harus memiliki terobosan, bagi para pelaku kemaritiman agar  para kapten, dan ahli mesin mendapatkan penghargaan yang sepadan” Imbuhnya. (Jojo Mahsunah) RRI 1

 

NO COMMENTS

Comments are closed.