Hal tersebut mencuat dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh program studi Nautika, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) pada jumat 25 September 2020. Hadir beberapa tokoh dari dunia industri diantaranya adalah Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, Capt. Akhmad Subaidi, M.Mar GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt, yang juga didampingi oleh wakil direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd, serta Direktur Polimarin Dr. Sri Tutie Rahayu selaku pengarah acara tersebut.

Tantangan para calon pelaut saat ini tidak hanya di era industri 4.0 saja, namun industri 5.0 sudah di depan mata sehingga mahasiswa kita perlu dibekali skill yang memadahi seperti pendidikan karakter agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan utamanya lingkungan kerja dan mereka juga memiliki karakter yang baik yang dapat diterima di dunia kerja. Selain itu pentingnya dari seminar virtual ini adalah agar para mahasiswa kemaritiman khususnya Polimarin dapat beradaptasi dengan teknologi sehingga para mahasiswa siap untuk langsung terjun ketika melakukan praktek laut. Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Polimarin, Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si. Dirinya menambahkan bahwa saat ini Polimarin menjadi salah satu diantara 4 politeknik di Indonesia yang menerima prosperity fun dari Inggris. Hal ini menjadi langkah yang sangat signifikan bagi input dan output pendidikan vokasi di Indonesia. Terlebih adanya wacana dari KEMDIKBUD terkait penyetaraan sekolah kejuruan menjadi jenjang diploma II (D2) menurut Sri Tutie merupakan fast track atau percepatan ke jenjang D3.

Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, menambahkan. Perlunya para calon pelaut agar up to date atau terkini dengan perkembangan teknologi agar mereka langsung dapat plug and play di dunia kerja. Sehingga tidak perlu memberikan edukasi dari sejak awal yang menurutnya kurang efisien.  Menurut Agus, sebagai contoh kapal curah semen yang dahulu biasa menggunakan sistem bongkar tidak demikian dengan teknologi kapal baru, namun cukup menggunakan sistem angin sehingga bersih dan tidak ada tumpahan debu. Kemudian bongkar muat sistem digitalisasi yang cukup hanya ditangani oleh 1 orang perwira sedangkan awak kapal hanya melakukan pengecekan tali-tali. Dengan sistem digitalisasi seperti itu menurut Agus sangat perlu dikuasai oleh lulusan kemaritiman agar mudah bersosialisasi ketika melakukan praktek laut ataupun mencari kerja.

GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt. Akhmad Subaidi, Perlunya seminar dengan tema mempersiapkan SDM kemaritiman yang berkompeten dalam menghadapi perkembangan teknologi dan digitalisasi di industri perkapalan yang didukung oleh Yonkorpstar Polimarin, Polimarin International Office, BSM, Direktorat Mitras Dudi (Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementrian Pendidikan Budaya RI, juga sangat berguna untuk menyiapkan tenaga kerja yg mandiri. Menurut Akhmad Subaidi, jika hanya yang penting lulus berarti tidak siap untuk masuk ke industri. Karena jika seseorang sudah mendapatkan pendidikan di sekolah kejuruan berarti sudah siap masuk ke dunia industri, paparnya. SDM maritim yang unggul menjadi tantangan ekonomi dan juga globalisasi yang akan terus berlanjut. Untuk itu mahasiswa kemaritiman perlu menguasai perkembangan teknologi, memiliki kemampuan analisis serta mampu bekerja tim. Kita (industri kemaritiman) yg butuh ilmu mereka. Kami tidak dibayar untuk mengajar cadet. Sehingga hal ini menjadi inisiatif taruna mencari tahu, dengan menggunakan kemampuan berkompromi, Imbuh Akhmad. Bila taruna dapat melakukan kompromi tersebut maka akan dapat langsung plug and play atau konsep langsung dengan menjalankan perannya, tutur Akhmad.

Menurut Wakil Direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd. Teknologi sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Tujuan institusi pendidikan kearitiman ini menghubungkan para lulusan dengan industri. Sehingga attitude atau sikap akan menentukan kesuksesan seseorang. Kurikulum yg tersedia sudah terverifikasi dari KEMENHUB, sudah berstandart memenuhi persyaratan dan petunjuk. Sehingga mahasiswa yang memiliki peran utama jadi bukan dosen, imbuh Ario. Menurut nya, para taruna harus melek teknologi tidak hanya bisa mengoperasikan saja. (Humas Kemitraan IDUKA)

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
YOUTUBE
INSTAGRAM