30% Perwira Indonesia Terserap Di Perusahaan Pelayaran Internasional, Diharapkan Dengan Adanya Program IDUKA Dapat Terserap Lebih Banyak Lagi

30% Perwira Indonesia Terserap Di Perusahaan Pelayaran Internasional, Diharapkan Dengan Adanya Program IDUKA Dapat Terserap Lebih Banyak Lagi

Program IDUKA, “Program Penguatan Hubungan Masyarakat (Humas) Kemitraan Pendidikan Tinggi Vokasi Dengan Industri, Dunia Usaha, Dan Dunia Kerja”, sangat membantu keterserapan sekolah vokasi di dunia indutri. Program ini adalah untuk menghasilkan berbagai program kerja kreatif di bidang kehumasan yang dapat membentuk citra baik PTV (Perguruan Tinggi Vokasi), terutama terkait kerja sama antara PTV dengan IDUKA. Program ini diharapkan juga dapat menjembatani agar para lulusan sekolah vokasi dapat diterima di dunia industri. Humas dan Kerja Sama memiliki peran penting dalam meningkatkan kemitraan dunia usaha dan dunia industri. Dalam hal ini, hubungan kemitraan antara Pendidikan Tinggi Vokasi dengan Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja (IDUKA) dapat dibangun melalui peran serta kolaborasi Humas dengan Kerja Sama. Fokus kedepan adalah mampu meningkatkan kesadaran dan sikap positif Mitra IDUKA terhadap PTV sehingga mampu mendorong IDUKA ke jenjang yang lebih serius, yakni menjalin kerja sama dengan PTV.

Menindak lanjuti program tersebut, Politeknik Maritim Negeri Indonesia POLIMARIN telah melakukan beberapa terobosan baru diantaranya 3 kali melaksanakan seminar online dengan mengundang perwakilan dari dunia industri khususnya di bidang pelayaran diantaranya adalah Capt. Akhmad Subaidi, M.Mar GM Benhard Schulte Shipmanagement (BSM) Indonesia, Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, Wakil Ketua Umum Bidang Logistics & Supply Chain DPW ALFI Jateng & DIY, Suprapto Suwaji, Direktur PT SPS Grup, Rory Riyanto. Tri Joko dari PT. Janata Marina Indah. Sumarcatur R Budi selaku MSM Training Manager PT Meratus line Surabaya.
Dikemukakan oleh Capt. Akhmad Subaidi, M.Mar, GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia, saat ini BSM shipping memanage sebanyak 120 kapal, dengan 700 pelaut. Sebanyak 120 kapal tersebut ada yang milik orang lain dan ada yang dimiliki oleh PT BSM.
Kami BSM indonesia fokus mencari pelautnya sesuai dengan standart BSM itu sendiri dan menyalurkan ke pemilik-pemilik kapal, yang tujuannya agar kapal siap beroperasi dan delivery muatan apapun dan kemanapun. Kami bertugas merekrut dan menempatkan pelaut. Mengembangkan pelaut Indonesia ditempatkan ke kapal-kapal internasional. Dukungan pendidikan vokasi khususnya pendidikan maritim bahwa para pendidik benar-benar bisa memberikan pengajaran kepada taruna sesuai dengan STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping), imbuhnya.

Akhmad menambahkan, jika para calon pelaut ini sudah siap maka kita nanti dari industri akan membantu. Kita menginginkan sesuai standart minimum. Membekali para calon pelaut sesuai dengan STCW. BSM yang berdiri sejak tahun 2007 memiliki standar untuk masuk ke pelayaran internasional. Syaratnya dan standartnya memang tinggi. Hal itu disebabkan jika terjadi kecelakaan yang terkena imbas tidak hanya kru saja namun juga perusahaan. Walaupun di dunia internasional permintaan pelaut sangat banyak namun tetap mengutamakan kualitas. Sehingga BSM tetap menseleksi para perwira dengan ketat. Selama ini kebanyakan pelaut yang bekerja di perusahaan asing didominasi oleh para pelaut Philipina dan India hal tersebut dikarenakan kemampuan bahasa Inggris yang mahir. Untuk itulah soft skill sangat perlu sebagai keahlian pendamping, tutur Akhmad. Menurutnya, alasan perwira Indonesia sulit bergabung ke industri pelayaran asing dikarenakan tidak ada yang membimbing dan under estimate. Kalo dulu pelaut yg dikirim ke kapal asing paling bawahan, untuk perwira tidak ada. Namun sekarang sebanyak 30% yaitu sekitar 700 orang yg hadir di bsm di atas kapal adalah perwira. Jumlah keseluruhan pelaut di Indonesia sendiri sekarang mencapai 1300 orang.
Menurut Achmad, Polimarin memiliki track record bagus sejak 2018 hingga sekarang. Sekarang tinggal melihat capaian dan progres out put yang dihasilkan. Jangan sampai mendapatkan teori penuh namun tidak match dengan yg diharapkan oleh industri. Target dan goal kita bisa diterima di perusahaan pelayaran internasional. Jangan sampai hanya diterima di pasar lokal saja.
Menurut Wakil Direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd. Bridging programe seperti ini sangat diperlukan untuk menjembatani antara dunia indutri dengan pendidikan vokasi, industri akan diuntungkan demikian juga dengan polimarin dan seluruh pendidikan vokasi khususnya kemaritiman. Kita berfikir untuk kemajuan bangsa, slogan sebagai bangsa maritim, slogan sebagai bangsa yang besar harus kita wujudkan. *Humas Iduka

PERMINTAAN SEKTOR LOGISTIK MENINGKAT MAHASISWA KEMARITIMAN DIHARAPKAN MAMPU MENGISI KEBUTUHAN SDM

PERMINTAAN SEKTOR LOGISTIK MENINGKAT MAHASISWA KEMARITIMAN DIHARAPKAN MAMPU MENGISI KEBUTUHAN SDM

Dalam seminar online yang diselenggarakan oleh program studi KPN (Tatalaksana Pelayaran Niaga dan Kepelabuhan) Polimarin (Politeknik Maritim Negeri Indonesia, yang berjudul “Menyiapkan SDM yang Kompeten dan Unggul Untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Penyedia Jasa Logistik dan Keagenan”. Mengemuka bahwa data yang diperoleh dari custom clearence/bea cukai di pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dalam 1 bulan terdapat 30.000 kontainer baik ekspor maupun impor. Kemudian data dari pelindo, kontainerisasi mengalami kenaikan sebesar 10% tiap tahunnya. Hal inilah yang menjadi potensi bahwa sektor logistik mengalami peningkatan shingga para mahasiswa harus mencari celah agar mampu mengisi kebutuhan SDM di sektor tersebut. Hal ini dikemukakan oleh Direktur PT SPS Grup, Rory Riyanto. Caranya mengisi celah kebutuhan SDM adalah jangan merasa puas dengan ilmu yang dimiliki akan tetapi memiliki rasa ingin tahu yang lebih terhadap ilmu yang dipelajari. Bagi mahasiswa yang mengambil jurusan tatalaksana diharapkan memiliki rasa bangga dan percaya diri, dikarenakan ada banyak kebutuhan SDM yang diperlukan di perusahaan logistik diantaranya shipping aircraft and trucking management, insurance freight forwarding, custom clearence atau bea cukai, pergudangan, ekspor impor dan masih banyak lagi, tutur Rory. Bagi para mahasiswa kemaritiman, khususnya tatalaksana tidak hanya mengisi kebutuhan SDM di bidang logistik saja namun juga dapat menjadi enterpreneur agar sektor logistik dapat semakin berkompetisi dan maju. Di Tanjung Emas Semarang sendiri, agen kapal melakukan 200 ship call dalam 1 bulan, kapal yang masuk diantaranya kapal container, bulk cargo, tongkang dan lain-lain. Menurut Rory, pelabuhan Tanjung Emas akan menjadi lebih besar, hal ini dapat dilihat pada perluasan kawasan  industri diantaranya kawasan industri Kendal, Batang, Boyolali, Sayung, dan Jepara. Diharapkan pada tahun 2023 pabrik di kawasan industri tersebut dapat melakukan aktivitas produksi secara normal setelah pandemik berakhir. Volume pekerjaan logistik jauh meningkat lebih besar. Terkait hubungan sektor logistik dengan penyesuaian industri 4.0, menurut Rory saat ini Indonesia telah banyak menggunakan teknologi agar pekerjaan lebih efisien dan cepat, seperti contoh lembaga bea cukai yang menggunakan teknologi  INSW Mobile yang merupakan aplikasi tracking.

Senada dengan Rory, Wakil Ketua Umum Bidang Logistics & Supply Chain DPW ALFI Jateng & DIY, Suprapto Suwaji menyatakan institusi pendidikan kemaritiman harus Menyiapkan SDM yang kompeten dan unggul untuk meningkatkan kualitas pelayaan penyedia jasa logistik dan keagenan. Menurut Suprapto di semua sektor saat ini, membutuhkan teknologi, di sektor logistik misalnya ada yang disebut warehouse management system dimana sistem pergudangan sudah terintegrasi secara online. Alasan penggunaan teknologi menurut Suprapto agar ada kompetisi yang efektif. “Semua sudah online, bahkan supir truk masuk ke pelabuhan menggunakan aplikasi” imbuhnya. Pada INPRES NO.5/2020 tentang penataan ekosistem logistik nasional dan ruang lingkupnya, di bidang logistik memiliki platform yang disebut National Logistic Ecosystem, dimana semua proses logistik terhubung secara online. Kemudian apa yang dicari perusahaan? Menurut Direktur polimarin, Dr.Sri Tutie Rahayu,S.Si, yaitu pengetahuan dan pengalaman bagi lulusan yang siap kerja, lincah dan fleksibel terhadap perubahan dengan memiliki soft skill dimana setiap manusia berkeinginan belajar selama hidup, disiplin dan memiliki kemauan kuat dalam tanggung jawab. Tutie menambahkan, penyiapan kompetensi SDM guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan penyedia jasa logistik, lulusan haruslah memiliki sikap yang baik, memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni, serta menguasai teknologi informasi. (Humas Mitrasdudi)

Hanya Mahasiswa yang Memiliki Skill yang Akan Bertahan Menghadapi Era Industri 4.0

Hanya Mahasiswa yang Memiliki Skill yang Akan Bertahan Menghadapi Era Industri 4.0

Era industri 4.0 yang nantinya akan menyusul era industri lain yang lebih maju dimana kondisi akan berubah diantaranya produksi akan lebih cepat dengan adanya teknologi yang memiliki manfaat besar bagi hajat hidup manusia. Namun di sisi lain juga dapat mempersempit lapangan kerja dikarenakan semua pekerjaaan dan tenaga manusia akan tergantikan dengan mesin robotik yang terintegrasi dengan komputer dan jaringan internet, hanya lulusan yang memiliki skill individu yang dapat bertahan. Hal tersebut mencuat dalam webinar kemitraan industri dengan judul “Mempersiapkan SDM Maritim Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 pada Teknologi Termesinan Kapal” yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknika, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN).

Dikemukakan oleh Tri Joko dari PT. Janata Marina Indah. Hanya yg memiliki skill yang dapat beradaptasi dan akan bertahan di era canggih. Kedepan tenaga kerja manusia semakin sempit dan tidak bisa menolak keadaan. Sehingga solusi terakhir hanya peningkatan skill individu untuk menjawab tantangan. Untuk tantangan infrastruktur maritim sendiri, antara lain kapasitas industri galangan kapal nasional khususnya untuk kapal berukuran besar diatas 20000 DWT sangat terbatas, galangan kapal yang belum merata artinya lebih banyak galangan kapal di Indonesia bagian barat, dibandingkan galangan kapal yang ada di wilayah Indonesia timur.  sementara galangan kpl milik pemerintah BUMN juga sangat terbatas. Di era revolusi ke 4 yang sedang berjalan dan terus berkembang kita harus banyak berinovasi ,memiliki ketrampilan khusus, dan tiga (3) hal penting yang harus dimiliki mahasiswa dalam menghadapi era revolusi industri ke 4, diantaranya skill, pengetahuan, sikap, dan aktif berinovasi, Imbuh Tri.

Menurut Sumarcatur R Budi selaku MSM Training Manager PT Meratus line Surabaya. Berkaitan hubungan antara SDM maritim di pasar kerja dengan kebutuhan industri. Industri cenderung berorientasi pada profit dan selalu berfikir tentang komoditas. Pelaku bisnis juga sebagai penentu harga. Sumarcatur menambahkan, Angkutan kapal tidak jauh beda dg harga ditentukan pasar. Semakin rendah cost atau biaya maka perusahaan tersebut akan dapat bertahan. Untuk dapat menentukan cost rendah tentunya perusahaan pelayaran harus memiliki SDM yang mumpuni. Karena dalam bisnis pelayaran kesalahan menentukan harga adalah kerugian. Di dalam pendidikan formal dan diklat pelayaran sering terjadi kerancuan sistem dalam artian bahwa kapan dosen memberikan ilmu dan kapan memberikan pengalaman kepada taruna masih belum ada batasannya. Dosen harus berkembang melihat perubahan aturan. Kecenderungan dosen lebih suka memberikan ilmu dimana rumus alam tidak akan berubah daripada memberikan aturan yg mungkin bulan depan akan berubah. Di lingkup institusi pendidikan mereka sering berdebat tentang economical speed. Berbeda dengan ilmu permesinan kapal. Bahan bakar yang paling rendah  dengan biaya 1 kontainer sejauh 1 mil, dan berapa keuntungan yang diperoleh perusahaan pelayaran, tutur Sumarcatur. Tugas institusi pendidikan terhadap anak didiknya untuk saat ini yakni dapat memenuhi SDM di shipping industry, bagaimana menyambungkan antara kebutuhan industri dengan lulusan dari institusi pendidikan. Menurut Wakil direktur III Polimarin, Yulius Oscar, Kurikulum dan lesson plan yang ideal adalah yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Tentunya 160 SKS lesson plan dari STCW tidak semua harus dipenuhi, kita melihat efektifitas kegunaan mata kuliah karena di Indonesia harus ada mata kuliah dasar umum sebagai penyempurna, imbuhnya. Sumarcatur, memberikan himbauan kepada para dosen institusi pendidikan kemaritiman agar tidak mengajar berdasarkan pengalaman saja namun dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Penglaman saja tanpa ilmu pengetahuan totally wrong, imbuhnya. Dosen harus disiplin dengan kurikulim, kompetensi, subjek, topik. Sehingga para dosen dapat memberikan ilmu pngatahuan sebagai dasar yang kuat. (Humas Kemitraan Iduka)

Polimarin Persiapkan Lulusan yang Plug and Play Guna Mencetak SDM Maritim yang Unggul

Polimarin Persiapkan Lulusan yang Plug and Play Guna Mencetak SDM Maritim yang Unggul

Hal tersebut mencuat dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh program studi Nautika, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) pada jumat 25 September 2020. Hadir beberapa tokoh dari dunia industri diantaranya adalah Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, Capt. Akhmad Subaidi, M.Mar GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt, yang juga didampingi oleh wakil direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd, serta Direktur Polimarin Dr. Sri Tutie Rahayu selaku pengarah acara tersebut.

Tantangan para calon pelaut saat ini tidak hanya di era industri 4.0 saja, namun industri 5.0 sudah di depan mata sehingga mahasiswa kita perlu dibekali skill yang memadahi seperti pendidikan karakter agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan utamanya lingkungan kerja dan mereka juga memiliki karakter yang baik yang dapat diterima di dunia kerja. Selain itu pentingnya dari seminar virtual ini adalah agar para mahasiswa kemaritiman khususnya Polimarin dapat beradaptasi dengan teknologi sehingga para mahasiswa siap untuk langsung terjun ketika melakukan praktek laut. Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Polimarin, Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si. Dirinya menambahkan bahwa saat ini Polimarin menjadi salah satu diantara 4 politeknik di Indonesia yang menerima prosperity fun dari Inggris. Hal ini menjadi langkah yang sangat signifikan bagi input dan output pendidikan vokasi di Indonesia. Terlebih adanya wacana dari KEMDIKBUD terkait penyetaraan sekolah kejuruan menjadi jenjang diploma II (D2) menurut Sri Tutie merupakan fast track atau percepatan ke jenjang D3.

Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, menambahkan. Perlunya para calon pelaut agar up to date atau terkini dengan perkembangan teknologi agar mereka langsung dapat plug and play di dunia kerja. Sehingga tidak perlu memberikan edukasi dari sejak awal yang menurutnya kurang efisien.  Menurut Agus, sebagai contoh kapal curah semen yang dahulu biasa menggunakan sistem bongkar tidak demikian dengan teknologi kapal baru, namun cukup menggunakan sistem angin sehingga bersih dan tidak ada tumpahan debu. Kemudian bongkar muat sistem digitalisasi yang cukup hanya ditangani oleh 1 orang perwira sedangkan awak kapal hanya melakukan pengecekan tali-tali. Dengan sistem digitalisasi seperti itu menurut Agus sangat perlu dikuasai oleh lulusan kemaritiman agar mudah bersosialisasi ketika melakukan praktek laut ataupun mencari kerja.

GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt. Akhmad Subaidi, Perlunya seminar dengan tema mempersiapkan SDM kemaritiman yang berkompeten dalam menghadapi perkembangan teknologi dan digitalisasi di industri perkapalan yang didukung oleh Yonkorpstar Polimarin, Polimarin International Office, BSM, Direktorat Mitras Dudi (Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementrian Pendidikan Budaya RI, juga sangat berguna untuk menyiapkan tenaga kerja yg mandiri. Menurut Akhmad Subaidi, jika hanya yang penting lulus berarti tidak siap untuk masuk ke industri. Karena jika seseorang sudah mendapatkan pendidikan di sekolah kejuruan berarti sudah siap masuk ke dunia industri, paparnya. SDM maritim yang unggul menjadi tantangan ekonomi dan juga globalisasi yang akan terus berlanjut. Untuk itu mahasiswa kemaritiman perlu menguasai perkembangan teknologi, memiliki kemampuan analisis serta mampu bekerja tim. Kita (industri kemaritiman) yg butuh ilmu mereka. Kami tidak dibayar untuk mengajar cadet. Sehingga hal ini menjadi inisiatif taruna mencari tahu, dengan menggunakan kemampuan berkompromi, Imbuh Akhmad. Bila taruna dapat melakukan kompromi tersebut maka akan dapat langsung plug and play atau konsep langsung dengan menjalankan perannya, tutur Akhmad.

Menurut Wakil Direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd. Teknologi sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Tujuan institusi pendidikan kearitiman ini menghubungkan para lulusan dengan industri. Sehingga attitude atau sikap akan menentukan kesuksesan seseorang. Kurikulum yg tersedia sudah terverifikasi dari KEMENHUB, sudah berstandart memenuhi persyaratan dan petunjuk. Sehingga mahasiswa yang memiliki peran utama jadi bukan dosen, imbuh Ario. Menurut nya, para taruna harus melek teknologi tidak hanya bisa mengoperasikan saja. (Humas Kemitraan IDUKA)

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
YOUTUBE
INSTAGRAM