Hanya Mahasiswa yang Memiliki Skill yang Akan Bertahan Menghadapi Era Industri 4.0

Hanya Mahasiswa yang Memiliki Skill yang Akan Bertahan Menghadapi Era Industri 4.0

Era industri 4.0 yang nantinya akan menyusul era industri lain yang lebih maju dimana kondisi akan berubah diantaranya produksi akan lebih cepat dengan adanya teknologi yang memiliki manfaat besar bagi hajat hidup manusia. Namun di sisi lain juga dapat mempersempit lapangan kerja dikarenakan semua pekerjaaan dan tenaga manusia akan tergantikan dengan mesin robotik yang terintegrasi dengan komputer dan jaringan internet, hanya lulusan yang memiliki skill individu yang dapat bertahan. Hal tersebut mencuat dalam webinar kemitraan industri dengan judul “Mempersiapkan SDM Maritim Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 pada Teknologi Termesinan Kapal” yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknika, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN).

Dikemukakan oleh Tri Joko dari PT. Janata Marina Indah. Hanya yg memiliki skill yang dapat beradaptasi dan akan bertahan di era canggih. Kedepan tenaga kerja manusia semakin sempit dan tidak bisa menolak keadaan. Sehingga solusi terakhir hanya peningkatan skill individu untuk menjawab tantangan. Untuk tantangan infrastruktur maritim sendiri, antara lain kapasitas industri galangan kapal nasional khususnya untuk kapal berukuran besar diatas 20000 DWT sangat terbatas, galangan kapal yang belum merata artinya lebih banyak galangan kapal di Indonesia bagian barat, dibandingkan galangan kapal yang ada di wilayah Indonesia timur.  sementara galangan kpl milik pemerintah BUMN juga sangat terbatas. Di era revolusi ke 4 yang sedang berjalan dan terus berkembang kita harus banyak berinovasi ,memiliki ketrampilan khusus, dan tiga (3) hal penting yang harus dimiliki mahasiswa dalam menghadapi era revolusi industri ke 4, diantaranya skill, pengetahuan, sikap, dan aktif berinovasi, Imbuh Tri.

Menurut Sumarcatur R Budi selaku MSM Training Manager PT Meratus line Surabaya. Berkaitan hubungan antara SDM maritim di pasar kerja dengan kebutuhan industri. Industri cenderung berorientasi pada profit dan selalu berfikir tentang komoditas. Pelaku bisnis juga sebagai penentu harga. Sumarcatur menambahkan, Angkutan kapal tidak jauh beda dg harga ditentukan pasar. Semakin rendah cost atau biaya maka perusahaan tersebut akan dapat bertahan. Untuk dapat menentukan cost rendah tentunya perusahaan pelayaran harus memiliki SDM yang mumpuni. Karena dalam bisnis pelayaran kesalahan menentukan harga adalah kerugian. Di dalam pendidikan formal dan diklat pelayaran sering terjadi kerancuan sistem dalam artian bahwa kapan dosen memberikan ilmu dan kapan memberikan pengalaman kepada taruna masih belum ada batasannya. Dosen harus berkembang melihat perubahan aturan. Kecenderungan dosen lebih suka memberikan ilmu dimana rumus alam tidak akan berubah daripada memberikan aturan yg mungkin bulan depan akan berubah. Di lingkup institusi pendidikan mereka sering berdebat tentang economical speed. Berbeda dengan ilmu permesinan kapal. Bahan bakar yang paling rendah  dengan biaya 1 kontainer sejauh 1 mil, dan berapa keuntungan yang diperoleh perusahaan pelayaran, tutur Sumarcatur. Tugas institusi pendidikan terhadap anak didiknya untuk saat ini yakni dapat memenuhi SDM di shipping industry, bagaimana menyambungkan antara kebutuhan industri dengan lulusan dari institusi pendidikan. Menurut Wakil direktur III Polimarin, Yulius Oscar, Kurikulum dan lesson plan yang ideal adalah yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Tentunya 160 SKS lesson plan dari STCW tidak semua harus dipenuhi, kita melihat efektifitas kegunaan mata kuliah karena di Indonesia harus ada mata kuliah dasar umum sebagai penyempurna, imbuhnya. Sumarcatur, memberikan himbauan kepada para dosen institusi pendidikan kemaritiman agar tidak mengajar berdasarkan pengalaman saja namun dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Penglaman saja tanpa ilmu pengetahuan totally wrong, imbuhnya. Dosen harus disiplin dengan kurikulim, kompetensi, subjek, topik. Sehingga para dosen dapat memberikan ilmu pngatahuan sebagai dasar yang kuat. (Humas Kemitraan Iduka)

Polimarin Persiapkan Lulusan yang Plug and Play Guna Mencetak SDM Maritim yang Unggul

Polimarin Persiapkan Lulusan yang Plug and Play Guna Mencetak SDM Maritim yang Unggul

Hal tersebut mencuat dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh program studi Nautika, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) pada jumat 25 September 2020. Hadir beberapa tokoh dari dunia industri diantaranya adalah Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, Capt. Akhmad Subaidi, M.Mar GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt, yang juga didampingi oleh wakil direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd, serta Direktur Polimarin Dr. Sri Tutie Rahayu selaku pengarah acara tersebut.

Tantangan para calon pelaut saat ini tidak hanya di era industri 4.0 saja, namun industri 5.0 sudah di depan mata sehingga mahasiswa kita perlu dibekali skill yang memadahi seperti pendidikan karakter agar mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan utamanya lingkungan kerja dan mereka juga memiliki karakter yang baik yang dapat diterima di dunia kerja. Selain itu pentingnya dari seminar virtual ini adalah agar para mahasiswa kemaritiman khususnya Polimarin dapat beradaptasi dengan teknologi sehingga para mahasiswa siap untuk langsung terjun ketika melakukan praktek laut. Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Polimarin, Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si. Dirinya menambahkan bahwa saat ini Polimarin menjadi salah satu diantara 4 politeknik di Indonesia yang menerima prosperity fun dari Inggris. Hal ini menjadi langkah yang sangat signifikan bagi input dan output pendidikan vokasi di Indonesia. Terlebih adanya wacana dari KEMDIKBUD terkait penyetaraan sekolah kejuruan menjadi jenjang diploma II (D2) menurut Sri Tutie merupakan fast track atau percepatan ke jenjang D3.

Capt. Agus Dwi Warsa, M.Mar. dari Fleet Department PT. Indobaruna Bulk Transport, menambahkan. Perlunya para calon pelaut agar up to date atau terkini dengan perkembangan teknologi agar mereka langsung dapat plug and play di dunia kerja. Sehingga tidak perlu memberikan edukasi dari sejak awal yang menurutnya kurang efisien.  Menurut Agus, sebagai contoh kapal curah semen yang dahulu biasa menggunakan sistem bongkar tidak demikian dengan teknologi kapal baru, namun cukup menggunakan sistem angin sehingga bersih dan tidak ada tumpahan debu. Kemudian bongkar muat sistem digitalisasi yang cukup hanya ditangani oleh 1 orang perwira sedangkan awak kapal hanya melakukan pengecekan tali-tali. Dengan sistem digitalisasi seperti itu menurut Agus sangat perlu dikuasai oleh lulusan kemaritiman agar mudah bersosialisasi ketika melakukan praktek laut ataupun mencari kerja.

GM Benhard Schulte Shipmanagement (SBM) Indonesia Capt. Akhmad Subaidi, Perlunya seminar dengan tema mempersiapkan SDM kemaritiman yang berkompeten dalam menghadapi perkembangan teknologi dan digitalisasi di industri perkapalan yang didukung oleh Yonkorpstar Polimarin, Polimarin International Office, BSM, Direktorat Mitras Dudi (Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementrian Pendidikan Budaya RI, juga sangat berguna untuk menyiapkan tenaga kerja yg mandiri. Menurut Akhmad Subaidi, jika hanya yang penting lulus berarti tidak siap untuk masuk ke industri. Karena jika seseorang sudah mendapatkan pendidikan di sekolah kejuruan berarti sudah siap masuk ke dunia industri, paparnya. SDM maritim yang unggul menjadi tantangan ekonomi dan juga globalisasi yang akan terus berlanjut. Untuk itu mahasiswa kemaritiman perlu menguasai perkembangan teknologi, memiliki kemampuan analisis serta mampu bekerja tim. Kita (industri kemaritiman) yg butuh ilmu mereka. Kami tidak dibayar untuk mengajar cadet. Sehingga hal ini menjadi inisiatif taruna mencari tahu, dengan menggunakan kemampuan berkompromi, Imbuh Akhmad. Bila taruna dapat melakukan kompromi tersebut maka akan dapat langsung plug and play atau konsep langsung dengan menjalankan perannya, tutur Akhmad.

Menurut Wakil Direktur I Polimarin, Ario Hendartono, S.Pd., M.Pd. Teknologi sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Tujuan institusi pendidikan kearitiman ini menghubungkan para lulusan dengan industri. Sehingga attitude atau sikap akan menentukan kesuksesan seseorang. Kurikulum yg tersedia sudah terverifikasi dari KEMENHUB, sudah berstandart memenuhi persyaratan dan petunjuk. Sehingga mahasiswa yang memiliki peran utama jadi bukan dosen, imbuh Ario. Menurut nya, para taruna harus melek teknologi tidak hanya bisa mengoperasikan saja. (Humas Kemitraan IDUKA)

Dies Natalis 8 Polimarin Wujudkan Vokasi Kuat-Menguatkan Mndonesia

Dies Natalis 8 Polimarin Wujudkan Vokasi Kuat-Menguatkan Mndonesia

Tepat 19 September 2020 Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) menapakkan usianya ke delapan tahun. Sejak 19 September 2012 dalam perjalanan kelembagaan dan perkembangannya, Polimarin dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi dibidang kemaritiman terus mengedepankan pendidikan karakter, dan keunggulan kompetensi sesuai bidang keahlian dan profesi didunia kemaritiman.

Sejarah Polimarin yang merupakan transformasi dari Semarang Growth Centre atau SGC, yaitu sebuah lembaga pemerintah yang dimaksudkan sebagai sarana untuk pengembangan, serta peningkatan kualitas pendidikan tinggi. SGC dibangun pada tahun 1993, lembaga ini menyediakan fasilitas dan infrastruktur untuk pendidikan, penelitian, dan layanan komunitas. Pada tahun 2011 SGC diubah menjadi Balai Pengembangan dan Pelayanan Pendidikan Tinggi atau BPLPT.

Sebagai tindak lanjut dari visi pemerintah dalam rangka pengembangan industri strategis, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku penyedia Sumber Daya Manusia, melaksanakan pengembangan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Sinkronisasi terukur antara dunia pendidikan dengan industri dunia usaha dan dunia kerja atau IDUKA, merupakan prasyarat utama dalam tumbuh kembangnya iklim perindustrian di suatu kawasan. IDUKA membutuhkan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi yang berkualitas, sedangkan perguruan tinggi memerlukan IDUKA untuk mengembangkan kerangka pembelajaran agar capaian pembelajaran terus berkembang secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan IDUKA. Hingga pada 19 September 2012 lahirlah Politeknik Maritim Negeri Indonesia (POLIMARIN) yang kemudian diresmikan oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu.

Joint Degree

Globalisasi disegala bidang hingga didunia pendidikan, menantang Polimarin yang merupakan penyelenggara pendidikan vokasi untuk ikut menjadi salah satu pemain global dalam pendidikan. Polimarin dengan institusi mitra internasionalnya, yaitu Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman dalam kemitraan internasional memiliki tujuann untuk memperluas dan memperkuat hubungan jangka panjang dan amanah kerjasama G to G antara institusi pendidikan pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman.

Fokus utamanya dalam kemitraan ini adalah mengembangkan Polimarin menjadi perguruan tinggi dengan hasil pembelajaran yang berkualitas dengan keterlibatan IDUKA internasional, serta dalam pengembangan perangkat pembelajaran dan berbagai kegiatan akademik termasuk penelitian.

Kegiatan kemitraan yang juga didukung penuh oleh pemerintah Jerman (The Deutscher Akademischer Austauschdienst atau DAAD) diwujudkan dalam kegiatan seperti pada tahun 2012 diselenggarakan pelatihan kompetensi seluruh Dosen Polimarin di Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman, kemudian pada tahun 2015 Profesor dan Senior Lecturer visit oleh Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman ke kampus Polimarin dengan agenda pelatihan dan pendampingan dalam penyelenggaraan pendidikan, hingga pada tahun 2016 dibentuklah prodi diploma 4 nautika dan dilanjutkan pada tahun 2019 dengan pengembangan program yaitu joint degree prodi diploma 4 nautika dengan Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman.

Selanjutnya dalam jangka panjang, keuntungan dalam kemitaan ini adalah sebagai bridging dalam membuka peluang program magister terapan hingga doktoral dibidang kemaritiman yang saat ini sudah berjalan di Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman.

Kerjasama

Program kerjasama kemitraan Polimarin dengan beberapa Industri dunia usaha dan dunia kerja atau IDUKA juga terus ditingkatkan. Kegiatan kemitraan tersebut diwujudkan dalam kegiatan seperti perkuliahan secara terstruktur, kuliah umum dan seminar oleh para profesional dari industri pelayaran, perkapalan dan kepelabuhanan, hingga kegiatan pemagangan mahasiswa dan perekrutan lulusan oleh IDUKA mitra.

Dengan adanya beberapa kerjasama antara Polimarin dengan IDUKA ini diharapkan pendidikan di Polimarin dapat menyentuh 3 aspek pendidikan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga dapat menghasilkan pola didik yang menghasilkan sumber daya manusia maritim yang memiliki profesionalitas, mentalitas, integritas, serta berdaya saing global dalam rangka menghadapi persaingan di dunia maritim yang semakin ketat.

Kerjasama dengan IDUKA baik dalam dan luar negeri sudah dilakukan sejak berdirinya Polimarin tahun 2012 hingga saat ini pada usia ke delapan tahun. Kemitraan dengan IDUKA juga terus dikembangkan bukan hanya sampai magang saja tapi hingga dapat bekerja di industri tersebut seperti dengan perusahaan Reederei Nord Jerman,  Bernhard Schulte Shipmanagement (BSM), Maersk Line, PT. Indobaruna Bulk Transport (IBT), PT. Pertamina Perkapalan, PT. Pelni, dan lain-lain.

Kedepan POLIMARIN akan terus mengembangkan kerjasama hingga menjadi centre atau pusat informasi kerja dan pelatihan serta penelitihan kemaritiman untuk perusahaan dalam dan luar negeri serta institusi pendidikan yang berkaitan dengan kemaritiman.

Selain menjalin kemitraan dengan IDUKA, kerja sama Polimarin dengan dunia pendidikan di antaranya dengan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut, World Maritime University, Hochschule Wismar University of applied Sciences Jerman, University of Tasmania Australia, Jiangsu Shipping College dan lain-lain.

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
YOUTUBE
INSTAGRAM