Mahasiswa Polimarin mengikuti pelatihan Gender Equality and Social Inclusion (GESI)

Pelatihan Tentang Disabilitas dan Non Diskriminasi, serta Pelecehan, Kekerasan dan HIV/AIDS bagi Kelompok Rentan untuk Mahasiswa oleh Tim Gender Equality and Social Inclusion (GESI) Polimarin melalui program United Kingdom Prosperity Fund (UKPF) (06/06/2022 – 09/06/2022)
Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan Perguruan Tinggi, Tim Gender Equality and Social Inclusion (GESI) Polimarin melalui program United Kingdom Prosperity Fund (UKPF) melaksanakan kegiatan “A Training on Disability and NonDiscrimination, and Harassment, Violence and HIV/AIDS for Vulnerable Groupss for Students” untuk 30 peserta dari Mahasiswa dan Mahasiswi Polimarin didampingi oleh Konsultan terkait GESI dari International Labour Organization (ILO) Bapak Fathurozi. Rangkaian kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 4 hari bertempat di Hotel Norman Semarang.
Wakil Direktur I Gunawan Budi Santoso, S.Kom., M.Kom membuka acara dengan membaca Basmalah dan memberikan sambutan “Bapak Menteri memberikan perhatian khusus terkait disabilitas, kekerasan seksual dan HIV/AIDS dengan harapan tidak ada lagi kekerasan seksual yang terjadi di lapisan masyarakat, maka manfaatkan kesempatan pelatihan ini dengan baik, silahkan diikuti, dicermati, dicatat dan diimplementasikan baik saat beraktifitas di kampus ataupun kelak di dunia industri.”
National Project Officer Skills Development ILO, Irfan Afandi dalam sambutannya menyatakan ILO sebagai organisasi yang menaungi para pekerja memiliki program nasional kerja layak yang bertujuan untuk mendorong dialog sosial yang efektif, menciptakan lapangan kerja bagi kaum muda, perlindungan bagi kelompok marginal (kelompok disabilitas, kurang mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan, dan kelompok minoritas) dan mendorong pencegahan dengan memeberikan kapasitas untuk mahasiswa dengan memberikan kesadaran tentang kekerasan seksual.